Rabu, 07 November 2012

Contoh Perilaku Husnuzan

KATA PENGANTAR


Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat,. taufik dan hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Penulisan makalah yang berjudul “Contoh Perilaku Husnuzan” ini, bertujuan untuk mengetahui contoh-contoh perilaku husnuzan baik kepada Allah swt., kepada diri sendiri, dan terhadap sesama manusia.
Penulis menyadari banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, itu dikarenakan kemampuan penulis yang terbatas. Namun berkat bantuan dan dorongan dari siswa-siswi dari SMA Negeri 2 Pangkajene khususnya kelas X Pythagoras dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya pembuatan makalah ini dapat terselesaikan .
Penulis berharap dengan penulisan Makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis sendiri dan bagi para pembaca umumnya serta semoga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mengembangkan dan meningkatkan prestasi di masa yang akan datang.



Pangkajene, 10 Oktober 2012




Penulis


Contoh-contoh perilaku husnuzan
a.      Husnuzan kepada Allah swt.
Husnuzan artinya berprasangka baik. Sedangkan husnuzan kepada Allah swt. mengandung arti selalu berprasangka baik kepada Allah swt., karena Allah swt. terhadap hambanya seperti yang hamba-Nya sangkakan kepada-Nya. Jika seseorang hamba berprasangka buruk kepada Allah swt. maka buruklah prasangka Allah kepada orang tersebut, jika baik prasangka hamba kepada-Nya maka baik pulalah prasangka Allah kepada orang tersebut.
Pada hakikatnya, apa pun yang kita alami terhadap cobaan yang diberikan Allah, kita harus berbaik sangka. Misalnya, cobaan sakit, keluarga kita ada yang mengalami kecelakaan lalu lintas, semua itu adalah cobaan dan kita harus tabah dan tawakkal menghadapinya. Karena semakin sayang Allah kepada seorang hamba-Nya maka Allah akan menguji orang tersebut dengan cobaan yang lebih besar, sehingga kadar keimanannya bertambah pula.
            Cara membiasakan diri bersikap sabar:
1)      Zikrullah (mengingat Allah)
الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya:    (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra’d: 28)

Zikir dapat melalui pengucapan lisan dengan memperbanyak menyebut asma Allah. Tetapi zikir juga bisa dilakukan dengan tindakan merenung dan memerhatikan kejadian di sekeliling kita dengan tujuan menarik hikmah. Sehingga akhirnya sadar bahwa segala sesuatu itu datangnya dari Allah juga.

2)      Mengendalikan emosi
Agar seseorang bisa berbuat sabar, maka harus berlatih mengendalikan emosi. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan dalam melatih mengendalikan emosi. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan dalam melatih mengendalikan nafsu atau emosi, yaitu:
a)      Melatih serta mendekatkan diri kepada Allah swt.
b)      Menghindari kebiasaan-kebiasaan yang dilarang agama.
c)      Memilih lingkungan pergaulan yang baik.

b.      Husnuzan kepada diri sendiri
Husnuzan terhadap diri sendiri berarti berprasangka baik kepada diri sendiri. Menerima apa adanya serta tetap berbaik sangka pada Allah swt., tidak menyesali keadaan dan keberadaannya. Adanya berbagai cobaan misalnya, miskin, cacat, sakit dan sebagainya kita harus tetap bersyukur pada Allah swt. yang telah menciptakan sebaik-baik makhluk. Firman Allah swt.:
بِأَنْفُسِهِمْ مَا يُغَيِّرُوا حَتَّ وْمٍبِقَمَا يُغَيِّرُ لااللَّهَ إِنَّ
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Sikap yang menunjukkan husnuzan dalam kehidupan sehari-hari antara lain: gigih, berinisiatif, dan rela berkorban.

1)      Gigih
Gigih berarti berkemauan kuat dalam usaha mencapai sesuatu cita-cita. Gigih sebagai salah satu dari akhlakul karimah sangat diperlukan dalam suatu usaha. Jika ingin mencapai suatu hasil yang maksimal, suatu usaha harus dilakukan dengan gigih, dan penuh kesungguhan hati.
Orang yang gigih tidak akan berpangku tangan dan tidak suka bermalas-malasan sehingga ia akan merasakan keberkahan hidup. Apabila setiap orang Islam memiliki sifat gigih, niscaya hidayah yang beriman akan melihat pekerjaan kita, sehingga tidak akan ada usaha kita yang sia-sia.
2)      Berinisiatif
Berinisiatif artinya senantiasa berbuat sesuatu yang sifatnya produktif berinisiatif menuntut sikap bekerja keras dan etos kerja yang tinggi.
 Islam mengajarkan umatnya untuk selalu berbuat yang produktif. Artinya fokuskan pada satu pekerjaan, jika telah selesai kerjakan yang lain. Tentu tidak hanya kerja keras saja melainkan dengan ketekunan, ketelitian, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknolohi serta senantiasa mengefesiensikan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan atau permasalahan.
3)      Rela berkorban
Rela berarti bersedia dengan ikhlas hati, tidak mengharapkan imbalan atau dengan kemauan sendiri. Berkorban bararti memiliki sesuatu yang dimiliki sekalipun menimbulkan penderitaan bagi dirinya sendiri. Rela berkorban dalam kehidupan masyarakat berarti bersedia dengan ikhlas memberikan sesuatu (tenaga, harta, atau pemikiran) untuk kepentingan orang lain atau masyarakat. Walaupun dengan berkorban akan menimbulkan cobaan penderitaan bagi dirinya sendiri.

c.       Husnuzan terhadap sesama manusia
Hampir setiap waktu kita berinteraksi dengan orang lain, dan dari interaksi itulah kerap kali timbul salah paham-salah paham yang menjadi kerikil dalam komunikasi. Hampir setiap hari kita melakukan kesalahan. Baik yang disadari maupun tidak. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk melakukan tobat setiap hari.
Hubungan baik antara sesame manusia, khususnya antara mukmin yang satu dengan mukmin yang lain merupakan suatu yang harus dijalin dengan sebaik-baiknya. Hal ini karena Allah swt. telah menggarisbawahi bahwa seluruh kaum mukmin adalah bersaudara, sebagaimana firman Allah swt.:

وَاتَّقُوْا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ إِنَّمَا الْمًؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ 
Artinya: Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudara kalian,  dan bertakwalah kalian  kepada Allah supaya kalian  mendapatkan rahmat. 

Karena setiap saat kita dapat menjadi orang yang melukai atau dilukai atau keduanya dalam waktu yang bersamaan setiap saat, maka kita amat perlu memlihara dan memupuk kemampuan untuk berbaik sangka (husnuzan) dan berlapang dada. Apabila ada masalah kita harus mencegah prasangka buruk yang mungkin timbul pada diri kita dengan berani bertanya mengenai duduk permasalahannya. Dan yang paling akhir adalah berani meminta maaf atau memaafkan bila kita memang salah atau ketika orang lain meminta maaf. Hal ini dimaksudkan agar ukhuwah islamiyah tetap terjalin dengan baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar